SENI KEHIDUPAN
Berawal dari sebuah kesalahan yang menyudutkan hati yang mudah rapuh
tanpa permisi. Kedewasaan yang belum tercapai saat itu merupakan salah satu
penyebab timbulnya kegagalan yang bertubi-tubi. Emosi yang tidak terkendali
mengeruhkan suasana dan pikiran yang jernih. Kadang dalam sunyi aku tertawa
kecil, mengingat tingkah laku yang sangat menyebalkan yang pernah dilakukan
berkali-kali. Ibaratnya selalu jatuh ke lubang yang sama. Sungguh lucu bila
kuingat!
Hal itu menyadarkan akan kedewasaan, terampil dalam mengambil keputusan,
hidup hanya sekali, menghargai perasaan orang yang lebih tua bahkan sesama dan
yang paling utama ialah pentingnya rasa syukur.
Ketika ku
lihat jarum jam terus berputar, tanggal dalam kalender terus berjalan, bumi
masih tetap berputar pada porosnya, dipikaranku terlintas kenapa aku harus
termenung dalam lamunan dan bayang-bayang kelam. Bukankah Sang Pencipta Maha
Segalanya?
Alarm pengingat diri selalu mengingatkanku akan kebesaran ALLAH S.W.T
tanpa henti. Perlahan jalan sempit yang dulu selalu aku ratapi berubah
sedikit-sedikit menjadi jalan luas dan indah. Tetapi seringkali aku menemukan
jalan yang berlubang dan terjal. Inilah seni kehidupan yang sangat indah dan
mempunyai nilai estetika tersendiri. Aku sangat bersyukur atas apa yang
diberikanNya saat ini. Tapi, manusia adalah manusia yang tidak akan pernah puas
dengan pencapaiannya. Aku harus meyakinkan diriku sendiri terlebih dahulu untuk
mencapai apa yang selalu aku impikan selama ini. Tentunya dengan kesadaran dan
kesabaran yang saling mengiringi. Semoga
Sang Ilahi mendengar dan mengabulkan semua untaian do’a dan harapanku.
June 23,
2020
Mrs. V

Mantapppp
ReplyDeletejazakalloh
Delete